laporan tugas

Kamis, 19 Juni 2014

KERANGKA USULAN PENELITIAN ILMIAH



A. Pendahuluan
Dahulu, apabila mendengar kata “penelitian”, orang sering membayangkan suatu kesibukan yang terjadi di laboratorium. Seorang ahli sedang asik mencermati reaksi zat-zat yang dicampur dalam tabung reaksioner, atau sedang sibuk meneliti benda-benda berukuran mikroskopik dengan mikroskop. Sehingga tertanam dalam benak bahwa penelitian merupakan kegiatan monopoli para ahli bidang sains.
Anggapan tersebut memang benar, tetapi tidak sepenuhnya benar. Orang-orang di laboratorium memang sedang melakukan penelitian, yaitu penelitian di bidang ilmu pengetahuan alam. Akan tetapi penelitian tidak hanya dilakukan di bidang ilmu pengetahuan alam saja, melainkan dilakukan di seluruh bidang ilmu.

Seorang pembuat roti, mengetahui takaran yang benar untuk membuat roti yang baik. Akan tetapi ia tidak puas hanya dengan hal itu, ia terus mencoba membuat roti yang berbeda dari yang telah ada dengan menambahkan berbagai bahan yang lain, sehingga akhirnya melahirkan roti jenis baru. Proses eksperimen pembuat roti hingga akhirnya menghasilkan roti jenis baru itu juga merupakan sebuah penelitian. Akan tetapi tidak melalui prosedur yang jelas, dan tidak ada laporan hasilnya dalam bentuk tulisan.
Berbeda dengan pembuat roti, para akademisi melaksanakan penelitian dalam berbagai ilmu yang dikuasainya dengan menggunakan prosedur-prosedur yang jelas, langkah-langkah yang terarah dan metode-metode yang sesuai sehingga menghasilkan sesuatu yang mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Untuk melahirkan sebuah karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, maka hendaklah memulai langkah awal penelitian dengan baik dan benar pula. Langkah awal ini berupa penyusunan usulan penelitian atau proposal yang kelak menentukan keberhasilan penelitian tersebut.
Makalah ini Insya Allah akan membahas tentang langkah awal penelitian berikut penyusunan proposal penelitian agar seorang peneliti dapat membuat perencanaan dan usulan penelitian dengan baik, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan.

B. Langkah Awal Penelitian
Setiap penelitian baik untuk skripsi, tesis, desertasi, dan penelitian lainnya selalu didahului dengan penyusunan usulan penelitian atau proposal penelitian. Karena keberhasilan penelitian seringkali terlihat dari sempurna atau tidaknya usulan penelitian yang disusun.
Proposal penelitian merupakan kerangka atau rincian prosedur kerja yang akan dilakukan pada waktu meneliti. Proposal penelitian disusun sebagai gambaran bagaimana penelitian tersebut akan dilakukan dan menunjukkan akan ke mana penelitian tersebut diarahkan. Juga dapat memberi gambaran bagaimana hasil yang akan diperoleh ketika penelitian tersebut rampung.
Suatu proposal penelitian yang baik hendaknya dapat mempermudah peneliti dalam melakukan penelitiannya. Terkadang seseorang menyusun sebuah proposal penelitian dengan sedemikian rupa dan seideal mungkin—menurut pendapatnya—dengan memasukkan berbagai ide yang ada di pikirannya agar mengesankan bahwa penelitian yang akan dilakukannya tersebut memiliki nilai akademis atau praktis yang tinggi, namun yang terjadi justru usulan penelitiannya tersebut membuatnya bingung menentukan kelanjutan penelitiannya.
Dari sekian banyak penelitian yang gagal dilakukan, pertama-pertama disebabkan tidak sempurnanya usulan penelitian yang diajukan. Karena kesempurnaan usulan penelitian menentukan layak tidaknya penelitian tersebut dilanjutkan. Sistematis, berencana, dan mengikuti konsep ilmiah merupakan tiga syarat utama sempurnanya sebuah proposal penelitian . Apabila salah satu syarat tersebut hilang, maka dipastikan penelitian tersebut akan cacat dan tidak lagi bersifat ilmiah.
Dalam teori penyusunan proposal penelitian, seringkali terdapat perbedaan format atau kerangka yang diajukan oleh para ahli. Akan tetapi apabila dikaji lebih dalam inti dan maksud sebenarnya adalah sama.

C. Kerangka Usulan Penelitian (Proposal Penelitian)
Yang dimaksud kerangka di sini adalah pokok-pokok dari suatu usul penelitian atau proposal penelitian, yang memberikan gambaran bagaimana suatu penelitian akan dilakukan dan bagaimana hasil penelitian tersebut diperkirakan setelah selesai nanti.
Tiap bagian dari kerangka ini akan dikemukakan bagaimana cara penyusunannya dan apa yang harus dikemukakan di dalamnya. Juga dijelaskan bagaimana cara menyambungnya dengan bagian yang lain, hingga merupakan suatu rangkaian kokoh dalam suatu proposal yang utuh. Utuh yang dimaksud adalah terpenuhinya syarat-syarat yang diminta sebagai suatu kerangka penelitian ilmiah.
Kerangka-kerangka yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Judul atau Topik penelitian. 2) Latar belakang masalah penelitian. 3) Perumusan masalah penelitian. 4) Tujuan penelitian 5) Tinjauan pustaka 6) Kerangka berpikir 7) Perumusan Hipotesa, dan 8) Langkah-langkah penelitian..
Kedelapan kerangka tersebut ketika selesai diolah secara benar sesuai dengan prosedur maka akan menjadikan suatu proposal penelitian yang siap untuk diajukan.

a. Judul penelitian
Judul seringkali dianggap sepele, namun merupakan sesuatu yang penting, karena judul adalah yang pertama terlihat dan paling sering dipertanyakan.
Judul penelitian merupakan identitas atau cermin dari jiwa seluruh pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, judul penelitian ditulis dalam kalimat yang jelas, lugas, dan menarik, serta mencerminkan isinya .
Berikut ini juga perlu dipertimbangkan agar judul memenuhi syarat sebagai judul yang tepat dan baik, yaitu :
- Judul dalam kalimat pernyataan, bukan pertanyaan.
- Cukup jelas, singkat, dan tepat.
- Berisi variable-variabel yang akan diteliti.
- Judul menggambarkan keseluruhan isi dan kegiatan penelitian yang dilakukan.

b. Latar belakang masalah
Latar belakang masalah bertolak dari adanya minat dan perhatian peneliti terhadap sesuatu yang disinyalir mengandung masalah.
Dalam latar belakang masalah dikemukakan data dasar yang dapat menjadi acuan atau alasan munculnya masalah penelitian. Ia dirumuskan dalam pernyataan-pernyataan yang saling berhubungan dan di dalamnya mengandung kontradiksi atau kesenjangan. Pengungkapan pernyataan ini bersifat deduktif, yaitu dari pernyataan bersifat umum dan berakhir pada yang bersifat khusus. Dari pernyataan-pernyataan itu menuntut adanya masalah atau masalah-masalah. Selanjutnya, dari pernyataan-pernyataan khusus yang disusun secara sistematik dan konsisten itu, muncul masalah khusus yang juga dirumuskan dalam bentuk pernyataan khusus.
Pada latar belakang masalah juga haruslah dikemukakan dengan tajam, kritis, dan jelas mengenai hal-hal sebagai berikut:
- Dasar pemikiran kenapa masalah tersebut diteliti.
- Gambaran secara ideal dan kenyataan masalah tersebut, yang didukung oleh fakta dan data.
- Identifikasi dan perivikasi masalah.
- Pembatasan ruang lingkup masalah yang akan diteliti.

c. Perumusan Masalah Penelitian
Setelah jelas latar belakang masalah yang dikemukakan, maka pada bagian perumusan masalah penelitian ini tinggal dikemukakan dengan jelas masalah yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian tersebut. Perumusan masalah biasanya dilakukan dengan menggunakan kalimat tanya, dan di dalamnya meliputi:
- Terlihatnya variable-variabel yang diteliti
- Tergambarnya populasi penelitian
- Jelas ruang lingkupnya
- Tidak terlalu luas dan tidak juga terlalu sempit, agar tidak membingungkan dalam melakukan penelitian.
- Hendaknya masalah yang dirumuskan dapat membantu peneliti dalam proses pelaksanaan penelitiannya.

Masalah penelitian adalah inti dari keseluruhan penelitian, sehingga perumusannya pun harus tepat sesuai dengan masalah yang ingin diteliti. Keseluruhan penelitian akan selalu mengacu pada masalah yang dihadapi sehingga proses penelitian berjalan terarah. Dan kesimpulan penelitian adalah merupakan jawaban dari rumusan masalah yang diajukan.

d. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian merupakan hasil akhir yang ingin dicapai dalam sebuah penelitian yaitu terjawabnya masalah penelitian. Ia merupakan muara dari suatu penelitian. Tujuan penelitian berhubungan secara fungsional dengan rumusan masalah penelitian yang dibuat secara spesifik, terbatas, dan dapat diperiksa dengan hasil penelitian.

e. Tinjauan pustaka
Dalam rencana penelitian, ada dua unsur yang memiliki fungsi yang hampir sama, yaitu tinjauan pustaka, dan kerangka berpikir. Keduanya menjadi pengarah secara substansial terhadap tahapan kegiatan penelitian berikutnya. Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan. Pertama, uraian dalam tinjauan pustaka dijadikan rujukan dalam perumusan kerangka berpikir. Kedua, rumusan dalam tinjauan pustaka sepenuhnya digali dari bahan yang ditulis oleh para ahli di bidang itu yang berhubungan dengan penelitian. Ketiga, dalam kerangka berpikir, rumusan sepenuhnya menjadi milik peneliti dengan mempertimbangkan pandangan atau informasi yang dirumuskan dalam tinjauan pustaka, kemudian dijadikan rujukan dalam kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan.
Tinjauan pustaka dapat berupa penelitian-penelitian yang telah lampau yang mengambil tema, atau objek yang sama sebagai bahan penelitiannya dengan metode atau teori yang berbeda, atau menggunakan metode dan teori yang sama tetapi dengan objek yang berbeda.

f. Kerangka berpikir
Kerangka berpikir dapat berupa kerangka teori dan dapat pula berupa kerangka penalaran logis. Kerangka teori dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau batasan-batasan tentang teori-teori yang akan dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan; merupakan teori mengenai variable-variabel permasalahan yang akan dihadapi.
Sedangkan kerangka penalaran logis merupakan urutan berpikir logis, sebagai suatu ciri cara berpikir ilmiah yang akan digunakan dan cara menggunakan logika tersebut dalam memecahkan masalah.
Kerangka berpikir bersifat operasional yang diturunkan dari satu atau beberapa teori, atau dari pernyataan-pernyataan yang logis. Ia berhubungan dengan masalah penelitian dan menjadi pedoman dalam perumusan hipotesis yang akan diajukan.

g. Perumusan hipotesa
Bertolak dari permasalahan yang timbul, maka hipotesa adalah sebagai jawaban atau anggapan sementara untuk menjawabnya . Ada dua jenis jawaban permasalahan yang dapat dikemukakan sesuai dengan taraf pencapaiannnya yaitu;
Pertama, jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada taraf ‘teoritik’, dicapai melalui studi pustaka. dan kedua, jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada taraf ‘praktek’, diperoleh setelah penelitian selesai dilakukan, yaitu setelah pengolahan data dilakukan.
Maka berdasarkan kedua hal di atas, maka hipotesa adalah jawaban permasalahan jenis pertama, yaitu kebenaran pada tahap teoritik, sehingga perlu diuji kebenarannya pada tahap praktek. Maka hipotesa tidak dapat menjadi kesimpulan kecuali setelah diuji kebenarannya melalui pengolahan data dan penelitian selesai dilakukan.
Dalam penyusunan hipotesa tersebut, peneliti terikat dengan permasalahan yang diajukan. Demikian pula dengan kerangka teori yang telah dikemukakan dan diteliti variable-variabelnya untuk kemudian dicarikan datanya melalui kerangka konsep yang telah dikemukakan. Dalam merumuskan hipotesa, peneliti menggunakan intuisi yang tajam, setelah memperhatikan masalah yang dikemukakan dan teori yang digunakan dalam penelitiannya. Sehingga hipotesa yang dikemukakannya dapat diuji melalui teori-teori tersebut yang mengacu kepada data-data yang didapatkan selama penelitian tersebut.

h. Penentuan metode penelitian
Penentuan metode penelitian, metode penelitian ditentukan sesuai dengan penelitian yang akan dihadapi berdasarkan tempat, jenis, ataupun karakteristik penelitian, berdasarkan tempat; apakah itu studi yang membutuhkan terjun ke lapangan, maka metode yang digunakan adalah field research (studi lapangan), atau apabila penelitian tersebut hanya memerlukan data-data dari berbagai buku maka penelitian tersebut adalah library research (studi pustaka). Dan sebagainya.

i. Langkah-langkah penelitian
Langkah-langkah penelitian, lazim disebut prosedur penelitian secara garis besar mencakup; penentuan metode penelitian, penentuan jenis data, penentuan sumber data, inventarisasi data, analisis data, dan penentuan kesimpulan. Kesemuanya ini merupakan langkah penelitian yang biasa dan mesti ada dan dilakukan dalam penelitian ilmiah.

D. Penutup
Dalam merumuskan proposal penelitian, kerangka-kerangka di atas amatlah penting untuk diperhatikan agar menghasilkan sebuah penelitian yang berkualitas. Sehingga para peneliti akan mudah dalam melakukan proses penelitian dan akan berbuah karya ilmiah yang baik.

Jumat, 23 Mei 2014

LAPORAN ILMIAH



LAPORAN ILMIAH

A. Pengertian Umum

Laporan ialah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
Laporan Ilmiah adalah laporan yang disusun melalui tahapan berdasarkan teori tertentu dan menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan (E.Zaenal Arifin,1993).
Dan menurut Nafron Hasjim & Amran Tasai (1992) Karangan ilmiah adalah tulisan yang mengandung kebenaran secara obyektif karena didukung oleh data yang benar dan disajikan dengan penalaran serta analisis yang berdasarkan metode ilmiah.
Laporan ilmiah adalah bentuk tulisan ilmiah yang disusun berdasarkan data setelah penulis melakukan percobaan, peninjauan, pengamatan, atau membaca artikel ilmiah.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan tentang laporan ilmiah.
1. Kegiatan menulis laporan ilmiah merupakan kegiatan utama terakhir dari suatu
kegiatan ilmiah.
2. Laporan ilmiah mengemukakan permasalahan yang ditulis secara benar, jelas, terperinci, dan ringkas.
3. Laporan ilmiah merupakan media yang baik untuk berkomunikasi di lingkungan akademisi atau sesama ilmuwan.
4. Laporan ilmiah merupakan suatu dokumen tentang kegiatan ilmiah dalam memecahkan masalah secara jujur, jelas, dan tepat tentang prosedur, alat, hasil temuan, serta implikasinya.
5. Laporan ilmiah dapat digunakan sebagai acuan bagi ilmuwan lain sehingga syarat-syarat tulisan ilmiah berlaku juga untuk laporan.
6. Laporan ilmiah, umumnya, mempunyai garis besar isi (outline) yang berbeda-beda, bergantung dari bidang yang dikaji dan pembaca laporan tersebut. Namun, umumnya, isi laporan terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.

Suatu karya dapat dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Penulisannya berdasarkan hasil penelitian, disertai pemecahannya
2. Pembahasan masalah yang dikemukakan harus obyektif sesuai realita/ fakta
3. Tulisan harus lengkap dan jelas sesuai dengan kaidah bahasa, Pedoman Umum
4. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), serta Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI)
5. Tulisan disusun dengan metode tertentu
6. Tulisan disusun menurut sistem tertentu
7. Bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, ringkas, tepat, dan cermat sehingga tidak terbuka kemungkinan adanya ambiguitas, ketaksaan, maupun kerancuan.

Jenis Laporan Ilmiah
a. Laporan Lengkap (Monograf).
1) Menjelaskan proses penelitian secara menyeluruh.
2) Teknik penyajian sesuai dengan aturan (kesepakatan) golongan profesi dalam bidang ilmu yang bersangkutan.
3) Menjelaskan hal-hal yang sebenarnya yang terjadi pada setiap tingkat analisis.
4) Menjelaskan (juga) kegagalan yang dialami,di samping keberhasilan yang dicapai.
5) Organisasi laporan harus disusun secara sistamatis (misalnya :judul bab,subbab dan seterusnya,haruslah padat dan jelas).

b. Artikel Ilmiah
1) Artikel ilmiah biasanya merupakan perasan dari laporan lengkap.
2) Isi artikel ilmiah harus difokuskan kepada masalah penelitian tunggal yang obyektif.
3) Artikel ilmiah merupakan pemantapan informasi tentang materi-materi yang terdapat dalam laporan lengkap.

c. Laporan Ringkas
Laporan ringkas adalah penulisan kembali isi laporan atau artikel dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti dengan bahasa yang tidak terlalu teknis (untuk konsumsi masyarakat umum).

B. Sistematika Laporan
Ilmiah Laporan ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi hal-hal yang terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap. Secara umum, sistematika suatu laporan yang lengkap terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.

1. Bagian Pembuka
Bagian pembuka umumnya digunakan apabila laporan merupakan tulisan yang berdiri sendiri secara utuh. Untuk laporan penelitian dalam jurnal atau bagian dari sebuah buku, tidak seluruh unsur dalam bagian pembuka tersebut digunakan. Bagian pembuka ini terdiri atas :
a. Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi asal, kota penyusunan, dan tahun
b. Halaman pengesahan (jika perlu)
c. Halaman motto/semboyan (jika perlu)
d. Halaman persembahan (jika perlu)
e. Prakata;
f. Daftar isi;
g. Daftar tabel (jika ada)
h. Daftar grafik (jika ada)
i. Daftar gambar (jika ada)
j. Abstak : uraian singkat tentang isi laporan

2. Bagian Isi
Bagian isi merupakan menyajikan atau mengomunikasikan informasi ilmiah yang ingin disampaikan. Pada bagian isi inilah seluruh komponen pendahuluan, kajian pustaka dan kerangka teori, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta simpulan dan saran disajikan secara lengkap. Bagian isi terdiri dari :

a. Bab I Pendahuluan
Pendahuluan merupakan tulisan yang disusun untuk memberikan orientasi kepada pembaca mengenai isi laporan penelitian yang akan dipaparkan, sekaligus perspektif yang diperlukan oleh pembaca untuk dapat memahami informasi yang akan disampaikan Pendahuluan terdiri atas :
(1) Latar belakang
(2) Identitas masalah
(3) Pembatasan masalah
(4) Rumusan masalah
(5) Tujuan dan manfaat

b. Bab II :
Kajian Pustaka
Kajian pustaka mengungkapkan teori-teori serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan pada topik yang sama atau serupa. Berdasarkan analisis terhadap pustaka tersebut, peneliti dapat membatasi masalah dan ruang lingkup penelitian, serta menemukan variabel penelitian yang penting dan hubungan antarvariabel tersebut.

c. Bab III :
Metode
Pada bagian ini biasanya dijelaskan secara rinci mengenai desain penelitian, populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan dan analisis data, serta kelemahan penelitian.

d. Bab IV :
Pembahasan
Pembahasan pada dasarnya merupakan inti dari sebuah tulisan ilmiah. Pada bagian ini penulis menyajikan secara cermat hasil analisis data serta pembahasannya berdasarkan kajian pustaka dan kerangka teori yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

e. Bab V :
Penutup
Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran dari laporan ilmiah tersebut. Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis dari penelitian yang dilakukan. Kesimpulan diperoleh dari uraian analisis, interpretasi dan deskripsi yang telah dituliskan pada bagian analisis dan pembahasan. Untuk menulis simpulan, penulis perlu mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang hasil apa yang paling penting dari penelitian yang dilakukan. Jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang dituliskan pada bagian simpulan. Pada bagian akhir, biasanya simpulan disertai dengan saran mengenai penelitian lanjut yang dapat dilakukan

3. Bagian Penutup
a. Daftar Pustaka
b. Daftar Lampiran
c. Indeks daftar istilah

C. Langkah-Langkah Membuat Laporan
Agar dapat menyusun laporan yang baik dan efektif, perlu dipersiapkan dengan matang. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah seperti berikut.
1. Menetapkan tujuan laporan Pembuat laporan harus tahu, untuk apa laporan dibuat dan siapa yang akan membaca laporan tersebut.

2. Menentukan Bahan Laporan Bahan-bahan laporan yang dapat digunakan adalah:
(1) surat-surat keputusan
(2) notulen hasil rapat
(3) buku-buku pedoman
(4) hasil kegiatan
(5) hasil penelitian
(6) hasil diskusi

3. Menentukan cara penngumpulan data Cara pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
(1) Membuat petunjuk pelaksanaan bagi peneliti yang menjelaskan sasaran dan penyesuaian kegiatan
(2) Melakukan wawancara
(3) Mengumpulkan dokumen pelaksanaan kegiatan
(4) Penyusunan daftar pengecekkan untuk melihat data yang ada dan yang tidak ada

4. Mengevaluasi Data Data yang telah dikumpulkan dievaluasi untuk dibuat suatu simpulan.

5. Membuat Kerangka Laporan Kerangka laporan dibuat sesuai dengan sistematika laporan.

D. Teknik Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka atau bibliografi yang berisi buku, makalah, artikel, atau bahan lainnya mempunyai pertalian dengan sebuah tulisan atau sebagian dari tulisan yang sedang dibuat. Melalui daftar pustaka, pembaca dapat mengetahui keseluruhan sumber yang digunakan dalam tulisan yang dibacanya sehingga dapat merujuk pada sumber asli Unsur-unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara berturut-turut meliputi: nama penulis, tahun penerbitan, judul tulisan, kota tempat penerbitan, dan nama penerbit.
Penulisan daftar pustaka, secara umum adalah sebagai berikut.
1. Daftar Pustaka disusun secara alfabet (A,B,C,.....) berturut-turut dari atas ke bawah tanpa menggunakan angka arab, tanda hubung, dan semacamnya.

2. Cara penulisan sebuah sumber pustaka berturut-turut adalah sebagai berikut.
a. Penulisan nama pengarang Nama pengarang bagian belakang (nama akhir atau nama keluarga) ditulis lebih dahulu, diikuti tanda koma baru nama bagian depan kemudian diikuti titik. Jika buku disusun oleh sebuah komisi atau lembaga, dipakai menggantikan nama pengarang. Jika tidak ada nama pengarang, urutannya harus dimulai dengan judul buku.
b. Menuliskan tahun terbit buku, diikuti tanda titik
c. Menuliskan judul buku, diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf miring, diikuti tanda titik
d. Menuliskan tempat atau kota penerbitan, diikuti tanda titik dua.
e. Menuliskan nama penerbit dan diikuti tanda titik

3. Apabila digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama penulisnya, sumber ditulis dari buku yang lebih dulu terbit diikuti buku yang terbit kemudian.

4. Bila tidak ada nama penulis, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan alfabet.

5. Jarak antara baris dan baris untuk satu referensi adalah satu spasi tetapi jarak antara pokok dengan pokok adalah dua spasi.

6. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak empat ketukan mesin tik.

7. Apabila sebuah referensi ditulis oleh lebih dari dua orang penulis, hanya satu nama yang dicantumkan dalam daftar pustaka dengan susunan nama terbalik. Untuk nama penulis lainnya disingkat dkk atau dll.

E. Format Penulisan Laporan
Ukuran dan Jenis Kertas Format penulisan sesuai dengan sistematika laporan formal di atas. Format penulisannya tergambarkan dalam daftar isi dengan pengetikan atau penulisan yang teratur, terperinci, dan jelas bagian-bagiannya. Adapun teknik penulisan meliputi hal-hal sebagai berikut
1. Margin Ukuran margin terdiri atas batas kiri dan batas atas 4 cm. Serta batas kanan dan batas bawah 3 cm dari pinggir kertas. Semua tulisan termasuk tabel dan gambar berada dalam margin. Subjudul bagian bawah halaman harus diikuti dengan dua baris penuh di bawahnya, bila tidak memungkinkan subjudul ditulis pada halaman berikutnya. Begitupun kata terakhir pada suatu halaman tidak boleh dipisahkan ke halaman berikutnya tetapi seluruh kata ditulis pada halaman berikutnya.

2. Spasi Secara umum keseluruhan tulisan menggunakan spasi ganda. Kecuali untuk tabel, daftar pustaka, dan kutipan mempergunakan pula spasi tunggal (sesuai dengan aturan penulisan kutipan dan daftar pustaka). Alinea baru dapat dimulai dengan perbedaan spasi.

3. Penomoran Penomoran meliputi penomoran halaman, bab, subbab, dan rincian uraian.
a. Penomoran Halaman Halaman-halaman pendahuluan diberi nomor dengan menggunakan angka romawi kecil. Halaman-halaman isi dan penunjang menggunakan angka arab. Letak penomoran halaman ditempatkan di tengah dan dua spasi di atas margin bawah (bottom, center, headfooter 2,2 cm)
b. Penomoran Bab dan Subbab Penomoran mempergunakan penanda urutan sebagai berikut.
(1) Tingkat pertama dengan tanda: I, II, III, IV, V, dan seterusnya.
(2) Tingkat kedua dengan tanda: 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, 1.5, dan seterusnya.
(3) Tingkatan ketiga dengan tanda: 1.1.1, 1.1.2, 1.1.3, 1.1.3, 1.1.4, 1.1.5, dan seterusnya.
(4) Tingkatan keempat dengan tanda: 1.1.1.1, 1.1.1.2, 1.1.1.3, 1.1.1.4, dan seterusnya.
(5) Tingkatan kelima dengan tanda: 1.1.1.1.1, 1.1.1.1.2, 1.1.1.1.3, 1.1.1.1.4, dan seterusnya.

4. Tabel atau Gambar
a. Tabel Sebuah tabel terdiri atas nomor dan judul tabel, stub, box head, dan body. Nomor tabel ditulis dengan angka arab. Penomoran tabel menurut bab, misalnya nomor tabel 2.1, artinya tabel tersebut tabel pertama yang ada pada bab kedua. Judul harus padat dan dapat memberikan keterangan tentang data yang tercantum dalam tabel. Judul ditulis dengan huruf kapital setiap unsur katanya kecuali kata hubung. Apabila tabel bersumber pada tulisan atau referensi lain, tuliskan sumber referensinya pada bawah tabel.
b. Gambar Istilah gambar mencakup di dalamnya diagram bundar, batang, garis, histogram, dan sebagainya. Gambar harus diberi nomor dan judul. Pemberian nomor dan judul tidak berbeda dengan pemberian nomor dan judul pada tabel. Perbedaannya terletak pada penempatan. Nomor dan judul gambar diletakkan di bawah gambar.

5. Bahasa Bahasa yang dipergunakan dalam laporan ilmiah harus mengandung kejelasan dan reproduktif. Untuk ejaan dan peristilahan berpedoman pada EYD dan Pedoman Pembentukan Istilah.

6. Jenis Kertas Jenis kertas yang dipakai adalah jenis HVS, ukuran folio, atau kuarto bergantung pada aturan yang telah ditetapkan.

Kamis, 17 April 2014

METODE ILMIAH



Pengertian Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol.

Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah

Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.

Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis

Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.

Metode ilmiah didasarkan pada data empiris

Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.

Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol

Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.

Langkah-Langkah Metode Ilmiah

Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
  1. Merumuskan masalah.
  2. Merumuskan hipotesis.
  3. Mengumpulkan data.
  4. Menguji hipotesis.
  5. Merumuskan kesimpulan.

Merumuskan Masalah

Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?

Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.

Mengumpulkan Data

Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.

Menguji Hipotesis

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipotesis itu sendiri.

Merumuskan Kesimpulan

Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.